Ya Tuhan,
Aku ini bukan siapa dihadapMu
Aku bukan apa-apa di mataMu
Ketika murkaMu menghadapku
Aku hanya bisa berlari
Terus berlari
Tanpa bisa berhenti
Tanpa bertanya, apa salahku
Dan tanpa tahu apapun
Sudah!
Tanpa peduli tak dapat berlari lagi
Tanpa peduli penyesalan menggerogoti
Tanpa peduli jiwa kehilangan raga
Dan tanpa peduli mata kehilangan pandang
Yang pada akhirnya kusadari,
Kau mengambil semuanya
Aku terus saja berlari
Meski tahu semuanya sudah tiada
Meski harapan telah pupus
Meski mimpi sudah gugur
Meski tahu akhirnya sendiri
Aku terus berlari
Berlari
Terus berlari
Hingga akhirnya aku runtuh
Aku berlari
Berlari
Sampai mati
30 September 2009
Namaku Fitra Maha. Aku adalah seorang gadis berusia 15 tahun yang saat ini duduk di kelas X. Aku memiliki 1 orang kakak laki-laki bernama Dimaas Maha dan 2 orang adik perempuan bernama Risa Maha dan Rafika Maha. Saat dewasa nanti aku ingin menjadi seorang arsitek yang notabene menentukan sebuah bangunan dan membuat bangunan menjadi kokoh dengan rancanganku. Aku bukan putri dari keluarga yang berada, juga tidak dari keluarga yang, maaf, miskin. Aku seorang gadis biasa yang tinggal di rumah yang biasa pula. Tapi itu tidak membuatku berkecil hati. Karena aku tinggal di salah satu kota terkenal di Indonesia. Kota yang begitu indah dan cantik. Kota dimana Tuhan memberikan aku kepada Ibu dan Ayahku. Kota yang bahkan makanan khasnya telah tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia.
Ya tebakanmu benar!
PADANG. Salah satu Kota di wilayah Sumatera Barat yang terletak diantara 0044’00” LS-10 08’35” LS dan 1000 05’05”BT-1000 34’09”BT. Kota dengan suhu 23-32 derajat celcius pada siang hari dan 22-28 derajat celcius pada malam hari. Dan kelembaban 78-81 %. Kota seluas 694,96 km2 yang bergaris pantai 84 km2 dan memiliki 11 wilayah kecamatan.. Kota yang merupakan 1,65% dari luas Sumatera Barat. Kota dimana sejuta impian tertanam didalamnya. Kota yang telah mengalami sejarah pahit dan manis.. Kota dimana burung-burung terbang bebas menuju angkasa, kemudian kembali terbang menukik kearah daratan dan sebelum menabrak daratan berbelok mendadak, terbang miring menembus pohon-pohon yang tertiup angin. Kota dimana debu terbawa udara yang bergerak melenggok tenang. Kota dimana berbagai unsure berjalan selaras dengan harmoni yang begitu merayu. Kota dimana pohon nyiur melambai-lambai dipesisirnya.
Hidupku begitu bahagia dikota ini. Aku menjalani rutinitas seperti gadis seumuranku seperti biasa. Aku bersekolah. Aku bermain. Aku belajar. Dan aku melakukan semua itu dengan senang hati.
“Ibu, Ayah, aku berangkat sekolah”,kataku sambil beranjak ke Sekolahku.
“Dimaas juga berangkat…”,
“Risa juga…”,
“Fika juga ya, Bu, Yah…”,
“Hati-hati di jalan…”, kata Ayah dan Ibuku serempak.
“Ya… Assalamu’alaikum…”, kata kami serempak.
“Wa’alaikum salam…”,
Inilah kami. Keluarga Harmonis yang bahagia.
Akupun berangkat bersama kakakku karena kami bersekolah di sekolah yang sama. Kebetulan sekali, Sekolahku tidak terlalu jauh dari Sekolahku Jadi aku dan kakakku yang hanya berselisih 2 tahun, berangkat sekolah hanya dengan berjalan kaki. Sementara adik-adikku masih duduk di kelas 8 SMP dan kelas 5 SD.
Biasanya aku dan kakakku selalu berangkat sekolah dengan senyum yang melebar hingga akhirnya pagi ini aku dan kakakku berangkat sekolah.
Di tengah perjalanan kulihat kakakku seperti sedang memikirkan sesuatu. Karena penasaran, kutanya ia.
“Kakak?”,
“…”,
“Kakak?!”,
“Eh, iya?”,
“Kakak kenapa?”,
“Ehhh… nggak ada apa-apa, kok…”,
“Kakak, Fitra itu bukan orang asing yang baru kenal kakak 1 atau 2 hari… jadi Fitra tau kalau kakak sekarang sedang memikirkan sesuatu…Ada apa?”,
“Tidak ada apa-apa, hanya saaja… perasaan kakak, tidak enak…”,
“Ooh… Mungkin Cuma perasaan kakak saja…”, kataku sambil tersenyum. Dan Kak Dimaas juga tersenyum.
Kami pun meneruskan perjalanan sambil berbincang-bincang seputar sekolah sambil bercanda-canda. Kakakku bilang kita harus menjaga agar kota kita tetap cantik.
Disekolah kami, aku dan kakakku bersekolah tanpa harus membayar karena kami membayarnya dengan prestasi. Wah, sangat menyenangkan bukan?
Ooo00000oooO
Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan,
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan,
Banyak cerita yang mestinya kau saksikan,
Ditanah kering bebatuan,
Tubuhku terguncang dihempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi,
Gembala kecil menangis sedih,
Kawan coba dengar apa jawabnya ketika dia kutanya mengapa
…
(Ebiet G. Ade)
Ooo00000ooooO
Apa ini? Kenapa seluruh benda di dalam rumahku berguncang? Kenapa aku tidak dapat berdiri tegak? Kenapa semuanya bergerak tanpa koordinasi?
Aku pun berlari keluar kamar karena panic dan sambil bergoyang-goyang tak keruan. Nama yang pertama keluar dari mulutku adalah…
“Kak!... Kak Dimaas! Kakak!!!”,
“Ada apa?!”,kata kakakku keluar kamar dan menghampiri aku dan juga tak dapat berdiri tegak.
“Rumah kita! Rumah kita! Gempa! Ibu! Ibu! Ayah!”,
Kami berdua menghampiri Ibu dan Ayah tanpa gerakan tubuh yang terkoordinasi.
“Ibu!! Ayo keluar!!!”, kata kakakku kepada Ibuku.
“Ayah!!! Ayo kita keluar ayah!!”, kataku kepada Ayahku.
Mereka berdua sedang ada di ruang keluarga.
“Kalian keluar saja dulu, Ibu sama Ayah membangunkan dua adikmu… Cepat kalian keluar dulu!”,
“Tapi, kita harus keluar sama-sama Bu…”, kataku tak mau lepas dari Ibuku. Tubuh kami masih terus berguncang tak keruan. Untuk berjalan saja, sangatlah sulit..
“Sudah cepat! Nanti kami menusul!”, kata Ayah.
Ya Allah! Susah sekali untuk berjalan.
“Ayo Fitra, kita keluar duluan…!!!”, kata kakakku menarik tanganku keluar. Tapi sekencang apapun kakakku menarikku, aku tetap saja sulit untuk berjalan. Satu persatu bagian rumah ini mulai runtuh.
Bahkan aku sempat kejatuhan sesuatu dan keningku mengeluarkan darah.
“Auwww! Kakak Sakit!”,
“Ya sudah! Sakitnya nanti saja kalau sudah diluar! Sekarang keluar dulu!!”, katanya masih sambil menarikku keluar rumah.
Kemudian kulihat kearah atas.
Oh tidak! Sebuah benda akan menimpaku! Oh tidak! Aku akan mati! Oh tidak!
Matakupun terpejam.
Apa? Kenapa benda itu belum juga sampai menimpaku? Dimana aku? Apakah aku sudah mati?
Ternyata saat aku membuka mata, aku sudah ada di dalam pelukan kakakku di luar rumah dan ditempat yang lapang. Bumi masih saja berguncang tak berhenti.
Kakakku masih saja terus memelukku. Saat semuanya menjadi berhenti, serasa waktu tak berjalan.
Sunyi.
Aku berusaha lepas dari pelukkan kakakku. Kupandangi wajahnya. Cahaya sore masih bersinar redup.
“Kak…”,
Dahinya mengeluarkan darah sampai mengalir kedagunya.
“Dahi kakak…”, kataku mengelus dahinya.
“Tidak apa-apa…”, katanya memegang tanganku.
“Kak… Ibu… ayah… Dimana?”, kataku kemudian meneruskan, “Risa… Fika… Mereka dimana?”, kutatap mata kakakku yang tak mau memandang wajahku mengindari pandanganku.
Sejurus, kakakku diam. Memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan padaku. Kemudian menatapku dan kembali memelukku erat.
“Didalam…”, katanya lirih seperti berusaha menahan tangis.
Sudah kuduga jawaban itu yang akan aku terima. Seketika tangisku pecah dalam pelukan kakakku.
Gerimis. Langitpun menangis.
Bumi yang kuceritakan indah dan cantik kini menjadi tak berbentuk. Semuanya hancur! Keluargaku. Impianku. Harapanku.
Tidak mungkin! Aku tidak akan lagi bertemu dengan mereka. Kapan aku akan bertemu mereka lagi? Aku… Mereka…
Tidak ada lagi keluarga harmonis. Tidak ada lagi impian. Tidak adalagi tempat untukku menangis. Mereka sudah tak disini. Mereka sudah pergi. Jauh. Jauh sekali. Tak dapat kujangkau. Tak dapat lagi kulihat. Semuanya hancur! Senyum, tawa, tangis, bahagia, suka, duka. Semuanya hancur. Segalanya menjadi tiada.
“Bukan Fitra…”, kata kakakku lirih.
“Hiks… hiks…”,
“Mereka bukan pergi…”,
“Hiks… hiks…”, aku masih menangis tak henti.
“Tapi mereka pulang…”,
“Hiks… hiks…”,
“Inalillahi wa Inalillahi Raji’un…”,
“Hiks…hiks…”,
“sesuatu yang dari Allah, pasti akan kembali pada Allah…”,
Aku tahu, sebenarnya kakakku ini sedang menangis.
“Hiks… hiks…”, aku masih sedu sedan.
“Kita pasti ketemu lagi… Mereka hanya pulang mendahului kita…”, kata kakakku bijaksana masih sambil memelukku.
Ooo00000ooO
Kujalani hari-hariku di tenda pengungsian dalam keadaan kesedihan mendalam masih saja menggerogoti. Aku bertahan hidup dari bantuan-bantuan yang datang dari luar pulau. Kami masih setia menunggui tim Sar mengevakuasi korban dan berharap anggota keluarga kami ada yang masih selamat. Tapi semuanya Nihil. Kedua orang tuaku dan adikku ditemukan dalam keadaan sudah menjadi mayat.
Berhari-hari aku masih saja terus memikirkan anggota keluargaku. Sekarang yang tersisa hanya aku dan kakakku. Aku kembali mencoba menata hidupku bersama anggota keluarga yang aku punyai satu-satunya, Kakakku.
Sampai pada suatu hari beberapa minggu setelah gempa itu menghancurkan kotaku.
“Fitra!!! Kakakmu Fit!!”, kata seseorang padaku tiba-tiba saat aku sedang berjalan.
“Kakak kenapa?”,
“Ayo ikut aku!”,
Kamipun sampai ditempat yang ditunjukkan oleh orang itu. Kulihat seseorang tergeletak ditengah jalan dengan seluruh tubuh berlumur darah.
Aku mengguncang tubuh orang penunjuk itu, “Kak Dimaas kenapa?”,
“Tidak tahu… katanya tertabrak sesuatu…”,
Akupun mengampiri kak Dimaas di jalan itu. Gerimis.
Aku duduk disebelahnya, memangku kepalanya kepangkuanku.
“Kak…”
“Kakak kenapa?”,
Kupegang tangannya untuk mencoba mengecek denyut nadinya.
Dingin. Tanpa gerakan.
“Kak Dimaas…”,
“Jawab Kak!!!”,
“Kakak kenapa?!!!”,
“Kakak… bangun!!!
Sunyi. Lengang.
“Kakak…”
“Fitra sendirian kak… Fitra sendirian… Kakak!!!”,
“Kakaaaaaaaaakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!”,
Tangisku pecah sekencang-kencangnya. Tak peduli. Hujanpun semakin lebat hingga dress yang aku kenakan basah kuyup. Turun. Dingin menyelimuti.
Belum surut kesedihanku karena kehilangan orang tuaku, sekarang aku harus kembali merelakan kakakku pergi selamanya. Dia pergi. Jauh. Jauh sekali. Aku tidak dapat menjangkaunya.
“Kakak…”, Kupeluk kakakku didadaku.
“Bukan… kakak bukan pergi… Tapi kakak pulang…”, kataku lirih.
“Inalillahi wa inalillahi raji’un… Semua yang dari Allah pasti kembali pada Allah…”, kataku menirukan kalimat kakakku.”, Kita pasti ketemu lagi … Kakak hanya pulang mendahuluiku…”,
Ooo00000oooO
7 tahun kemudian…
Aku berdiri di samping lima buah gundukkan tanah yang sudah diberi keramik. Kutaburi kelima gundukkan itu dengan bunga yang kubawa.
“Kakak… Ayah… Ibu… Risa… Fika… Sekarang Fitra sudah jadi arsitek… Terimakasih ya semuanya… Terimakasih kak… Kakak sudah memberiku motivasi untuk terus hidup… Seseorang Jakarta telah mengadopsiku menjadi putrinya… Fitra Janji, Fitra akan buat bangunan kokoh yang tahan gempa…”,
Aku berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
“Terimakasih kak… Minang sudah kembali cantik dan indah…”,
Ooo00000ooO
…………………..
Bapak Ibunya telah lama mati,
Ditelan bencana tanah ini
Sesampainya dilaut
Kukabarkan semuanya
Kepada karang
Kepada ombak
Kepada Matahari
Tetapi semua diam
Tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri
Terpaku menatap langit
Barangkali disana ada jawabnya
Mengapa ditanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
(Ebiet G. Ade)
Selalu ada hikmah dibalik kejadian
Dia pasti punya rencana
Kita semua saudara
Kita semua Sahabat
Kami bersamamu Padang….
